Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah

Tugas dari IIP kali ini cukup menantang buatku. Hehehe, Kenapa???? Pak suami bukan tipe yang betah baca teks panjang-panjang. Jadi, daripada sudah merangkai kata yang panjang tapi malah ga dibaca, lebih baik edit foto dan tunjukin. Edit foto dan nunjukin aja udah pakai perjuangan, selama ini mah cuma ala kadarnya.

Inilah foto yang berkesan, ini honeymoon kami di pantai sawarna di akhir tahun 2016, padahal kami menikah tahun 2014

Terima kasih sudah saling menguatkan setelah kembalinya anak pertama kita, semoga bisa terus seperti ini tanpa ada batasan alam.

Meski hanya satu paragraf, namun maknanya cukup dalam. Jika tanpanya yang tegar, pastilah pikiran juga tak tentu arah. Kehilangan anak pertama adalah sebuah ujian bagi kami. Terima kasih suamiku.

Anakku, Alm Radu, terima kasih Allah telah titipkan engkau kepada kami selama 10 bulan terlahir ke dunia. Maafkan kami yang masih kurang perhatiannya selama mengasuh. Melalui alm, saya dan suami mendapat banyak pelajaran tentang hidup. Tentulah sedih kehilangan anak laki-laki yang baik secara fisiknya, menyenangkan hati setiap yang memandang.

Selama mengasuh alm, saya menjadi tahu dokter-dokter spesialis anak di kota Depok ini. Karena hampir tiap bulan bolak balik ke rumah sakit untuk berobat.  Satu kalimat orang tua yang tidak bisa dianggap remeh saat anak demam, " gak apa-apa panas, mau pinter " . Dulu saya nurut-nurut aja, karena ga tau ilmunya. Sekarang, kalau anak demam udah ga ada kompromi. Saya trauma dengan kisah alm, semoga kelak kita bisa berkumpul kembali ya sayang.

Anakku, ibrahim. Terima kasih Allah titipkan engkau kepada kami sebagai pengobat lara. Alhamdulillah mempunyai fisik yang lengkap, sehat, kuat. Melalui anak bayi usia 6 bulan ini, saya belajar bahwa tidak perlu sedih berlama-lama akan sesuatu hal. Melihatnya sedang menangis, di gendong dan di gelitik saja sudah bisa cekikikan lagi. Fitrah kita begitu kan, jadi kenapa sudah dewasa ini dipersulit :-) tetaplah riang seperti kita kecil, pikirkan yang baik-baik maka hidup kita akan baik.

Memandang kedua bola mata ibrahim, seperti menjelajah dimensi saat memandang alm. Tapi kalian berbeda, Allah titipkan kalian kepada kami dengan tujuan yang berbeda pula.

Kepada diriku, terima kasih sudah berteman baik dengan kehidupan setelah mempunyai anak untuk menjadi ibu rumah tangga. Meski ambisi menjadi wanita kantoran di pertaruhkan. Target kehidupan diubah, maksimalkan menjadi ibu rumah tangga, seperti saat muda dulu berambisi mengejar karir. Saya yang penuh ambisi, hadir untuk selalu mendukung suami dan mendidik anak-anak kami sesuai dengan fitrahnya. Kini, saya baru menyadari, sifat yang penuh ambisi ini cukup berguna juga untuk mendukung suami yang memang sifatnya lempeng aja. Saya yang penuh ambisi ini haus akan ilmu, beruntungnya ambisi ini selalu dituntun oleh Allah ke hal yang positif dan baik, insyaa Allah. Menjadi orang tua cerdas adalah tantangan di era serba digital ini, beruntung pula Allah berikan akal yang sehat dan cepat menyerap ilmu kepada saya. Semoga saya dan suami bisa mengasuh dan mendidik anak kami dengan baik sesuai syariat Agama

Saya dan suami, saat ini masih tinggal bersama mertua. Awalnya saya sangat keukeuh ingin pindah, tapi tidak diizinkan suami karena bapak mertua meninggal seminggu setelah pernikahan kami, sehingga tidak memungkinkan meninggalkan ibu mertua. Drama tinggal bersama ibu mertua sudah cukup banyak diperbincangkan ya diluar sana, tapi saya mencoba untuk berpikir positifnya saja.

Kami tinggal disini sebagai pengobat duka ibu mertua kami, insya Allah sebagai ladang pahala. Ibu mertua juga disini merantau, jadi sedikit-sedikit saya tahu perasaan beliau kalau tak ada satupun anaknya yang tinggal. Saya cukup menyadari, bahwa keberadaan kami disini untuk meneruskan kebaikan-kebaikan yang sudah dilakukan orang tua suami saya.

Lingkungan tempat tinggal kami didominasi para perantau, yang sebagian besar masih mengontrak. Tapi, kekeluargaannya cukup erat. Sabagai contoh, jika ada yang sakit pasti 1 RT akan datang secara rombongan, kalaupun tak bisa ikut rombongan karena berhalangan, pasti akan menyusul. Kesempatan inilah yang seringnya dimanfaatkan untuk mendapat ridho Allah atas nikmat yang diberikan, mobil yang ada di rumah meski tak mewah tapi bermanfaat bisa dipakai tetangga jika dibutuhkan. Untuk keperluan orang sakit, kondangan, hadir ke wisuda anak, kalau mobil menganggur silakan boleh pakai.

Meski saat ini belum bisa membantu secara ekonomi, tapi dalam lubuk hati terdalam entah kenapa sangat yakin bisa memberdayakan tetangga saya yang kurang mampu. Semoga Allah menyegerakannya, aamiin. Sayangi yang ada di bumi, yang ada di langit menyayangimu



#NHW3 #Week3 #MatrikulasiBatch#5 #MembangunPeradabanDariDalamRumah

Komentar